<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RAFTING MANIA</title>
	<atom:link href="http://ngarung.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ngarung.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Dec 2008 08:50:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ngarung.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RAFTING MANIA</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ngarung.wordpress.com/osd.xml" title="RAFTING MANIA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ngarung.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>RAFTING BENGKULU : &#8216;ae Manna</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/rafting-bengkulu-ae-manna/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/rafting-bengkulu-ae-manna/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 08:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Standing Wave]]></category>
		<category><![CDATA[adventure]]></category>
		<category><![CDATA[advnture]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[arng]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[jerAm]]></category>
		<category><![CDATA[jerm]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[mapala]]></category>
		<category><![CDATA[ngarung]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[petualngan]]></category>
		<category><![CDATA[raft]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Jack Sedikit informasi tentang ae&#8217; (air/sungai) Manna&#8230; berhubung udah lama, jadi beberapa nama tempat udah lupa.. sorry, guys.. lagian GPS gw yg isinya banyak bgt ilang huuuhuuuuuu.. Survey pertama bulan April &#8217;03 (Inge=Srikandi rafting versi majalah Matra hehehe &#8211; Jack &#8211; Dompie &#8211; Erwin Gumay + tim Lahat/Mabidar) saat masih musim hujan, kondisi air [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=21&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0 0 6pt;">
<p style="margin:0 0 6pt;"><strong>Sumber: </strong>Jack</p>
<p style="margin:0 0 6pt;">Sedikit informasi tentang ae&#8217; (air/sungai) Manna&#8230; berhubung udah lama, jadi beberapa nama tempat udah lupa.. sorry, guys.. lagian GPS gw yg isinya banyak bgt ilang huuuhuuuuuu..</p>
<p>Survey pertama bulan April &#8217;03 (Inge=Srikandi rafting versi majalah Matra hehehe &#8211; Jack &#8211; Dompie &#8211; Erwin Gumay + tim Lahat/Mabidar) saat masih musim hujan, kondisi air &#8220;bagus&#8221; (baca: besarrrrgggghhhh&#8230;)<br />
Survey kedua bulan September &#8217;03 (tim survey awal plus tim Rakata/Swatala + Mapaptri + tim Lahat/Mabidar), kondisi musim kemarau, Tinggi Muka Air/TMA di bawah normal (turun 100cm dibandingkan survey pertama, TMA di cek di meteran air PLN dkt Lubuk Semabang/Semabang Rapid)..<br />
Saat di lokasi, kita membagi jalur sungai menjadi 4 bagian ( Upper, Tanjung Sakti, Middle, Lower..<span id="more-21"></span><br />
Legenda:</p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal">??     =lupa      nama tempatnya hehehe..</li>
<li class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="background:black none repeat scroll 0;">SP     =Start Point</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span class="insertedphoto"><span style="background:black none repeat scroll 0;">RP     =Rest Point</span></span></li>
<li class="MsoNormal">FP     =Finish      Point</li>
<li class="MsoNormal">JT     =Jarak      Tempuh</li>
</ul>
<p style="margin:0 0 6pt;">Upper : Dam &#8211; Tanjung Sakti<span class="insertedphoto"><a href="http://jackdrapid.multiply.com/photos/hi-res/85/1"><span style="background:black none repeat scroll 0;color:windowtext;"> </span></a></span><br />
SP : Dam..<br />
FP : Jembatan Gantung (pertemuan sungai)<br />
jarak tempuh : 1,5 jam (santai)</p>
<p>posisi Dam ?? sekitar 10 mnt dari tanjung sakti ke arah Pagar Alam.. tinggi air rata2 se-dengkul.. jalur awal selebar 5m, mendekati tanjung sakti sekitar 15m (100m ke hulu ada anak sungai tapi cukup lebar dan berarus deras) dari dam trip bergantung pada musim krn survey ke-2 kita tidak bisa lewat.. kondisi batunya di atas normal hahaha.. bukan airnya hihihi.. saat musim hujan, walau kondisi dangkal tapi cukup excited krn gradien cukup tinggi ditambah jalur sempit.. kadang hanya muat 1 boat.. beberapa tempat banyak dahan pohon menghalangi jalur.. emergency exit route mudah karena masih dekat dgn perkampungan &amp; jalan raya<br />
Tanjung Sakti: Tj. Sakti &#8211; ae&#8217; Simpur<br />
SP : Jembatan Gantung<br />
FP : ae&#8217; Simpur<br />
jarak tempuh : 2,5 jam (santai, full scouting)<br />
saat musim hujan, direkomendasikan untuk mempersiapkan segala hal dengan baik untuk memasuki jalur ini.. boat, PPE, rescue system, etc.. di jalur ini kita akan memasuki sungai yg diapit bukit2, beberapa tempat malah tebing vertikal atau bukit yg curam.. dari peta topo yg kita bawa, jalur sungai menghilang tertelan jalur kontur perbukitan dan jalan raya menjauh hingga pertemuan ae&#8217; Simpur..<br />
untuk first descent, dianjurkan untuk scouting terus karena ada bagian belokan sungai yg tidak terlihat dari jauh sehingga saat diarungi kita bisa masuk ke eddies yg besar (Lubuk=lokal).. ada bagian sungai yg berjeram besar tapi kurang lahan untuk scouting..<br />
beberapa jeram sangat dekat jaraknya (<em>continous rapid</em>) ditambah beberapa patahan sungai.. (di salah satu jeram  malah boat sempat miring dan menumpahkan 3 org pendayung nya padahal di depan masih ada jeram panjang menanti..)<br />
kondisi jeram saat musim hujan rata2 grade 3+ &#8211; 4&#8230;<br />
Finish Point adalah sandy beach dekat jembatan ae&#8217; Simpur dan jalan raya (seneng bgt liat jalan raya setelah 2,5 jam harap2 cemas di tengah hutan belantara dan kondisi agak gelap karena mendung &amp; menjelang sore hmmmmmm it&#8217;s spooky&#8230;.)<br />
emergency exit route sangat sulit karena sungai berada di tengah perbukitan yg curam dan jauh dari jalan raya</p>
<p>Midle Part: ae&#8217; Simpur &#8211; Pulau Timun<br />
SP : ae&#8217; Simpur<br />
FP : desa Pulau Timun<br />
jarak tempuh : 2,5 jam (santai, full scouting)<br />
Di bagian ini, sungai yg diarungi masih mempunyai beberapa jeram besar, salah satu nya adalah jeram Lubuk Semabang (lokal=??).. bentuknya adalah patahan dan susunan batu membentuk dam selebar sungai (12m) dengan tinggi sekitar 1 m saat TMA diatas normal.. kondisi ini diperparah dengan adanya 3 jeram diagonal standing wave (zig-zag, mengingatkan jeram Maskot cimandiri taon 95an) dengan ujung jeram tsb adalah diagonal main flow mengarah ke tebing (jeram &#8220;S&#8221; cicatih)<br />
Salah satu keuntungan dari trip ini adalah adanya jalan raya mengikuti jalur sungai hingga jembatan Pulau Timun sehingga tim darat dapat memantau pengarungan dengan kendaraan (mobil/motor).. malah terdapat beberapa jambatan gantung besi atau akar sehingga kita bisa membuat dokumentasi dengan foto atau video..Rest point di jalur ini adalah sandy beach-nya ae&#8217; Bulu lengkap dengan air jernih nan segar.. kita bisa beristirahat makan siang dan menikmati jernihnya air sungai Bulu, salah satu anak sungai Manna&#8230;<br />
finish point pulau timun, di bawah jembatan besi.. jembatan ini memotong sungai Manna sehingga awalnya dari Pagar Alam sungai Manna berada di sisi kanan jalan hingga P. Timun kemudian jalan raya berada berpindah ke sisi kiri jalan raya setelah jalur sungai meninggalkan P. Timun..<br />
di P. Timun, teman2 bisa singgah ke rumah kepala desa, waktu itu Pak Tipus dan dia banyak bercerita ttg sungai manna dan jeram2nya yg dahsyat.. terutama jeram JERIBIK&#8230;</p>
<p>Lower Part : Pulau Timun &#8211; Manna, Bengkulu (utang nih&#8230;.)<br />
SP : desa Pulau Timun<br />
FP : Jeram ae&#8217; Manna Hijau<br />
jarak tempuh : 1 jam (tegang, full scouting abieeeessssss)</p>
<p>sebenarnya jalur ini belum kita arungi.. soalnya saat survey waktu kita tidak cukup.. apalagi saat survey pertama TMA makin meninggi krn hujan di hulu.. dan beberapa teman tidak berminat untuk mencoba kedahsyatan jeram Jeribik.. kondisi september &#8217;03, jeram Jeribik bisa dikategorikan grade 4.. tapi survey april &#8217;03 jeram tsb bisa dikatakan UNRUNABLE..!!!!!<br />
lokasi jeram Jeribik berada kira2 700m dari jembatan P. Timun dan terlihat dari pinggir jalan.. sayang nya dari pinggir jalan menuju jeram itu, jalanan menurun dan terjal dengan kemiringan 80 derajat.. hampir seperti melihat ujung jari kaki kita saat berdiri di pinggir jalan&#8230;<br />
sekitar 15 menit mengikuti jalan raya menuju Bengkulu, kita akan menemukan patung Garuda Hitam yg merupakan perbatasan Palembang &#8211; Bengkulu&#8230;<br />
masih terdapat beberapa jeram besar setelah Jeribik tapi kondisi sungai semakin jauh di bawah menjadikan scouting sangat sulit&#8230;<br />
setalah perbatasan, kondisi sungai mulai tenang dan menjadi flat saat memasuki kota Manna, Bengkulu</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.ae&#8217; manna&#8230;. here we come&#8230;</p>
<p>buat teman2 yg tidak tersebutkan di tulisan ini, maap ya&#8230; poho euyh..<br />
buat teman2 milis, sori klo tulisannya tidak menggunakan bahasa indonesia yg baik dan disempurna&#8217;ken&#8230;<br />
buat yeyen en pipin&#8230; siap-siap yak&#8230; hehehe..</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;">Dari : www.faji.org</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=21&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/rafting-bengkulu-ae-manna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arung Jeram Indonesia Selayang Pandang</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/arung-jeram-indonesia-selayang-pandang/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/arung-jeram-indonesia-selayang-pandang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 08:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang yang sehat dapat mencoba olah raga arung jeram. Arung Jeram dapat dikategorikan sebagai olah raga petualangan, karena tidak saja mengandung unsur olahraga (sport), tetapi juga petualangan (adventure) dengan berbagai resikonya. Apa yang mengilhami orang untuk bermain Arung Jeram? Para penggemarnya mengatakan karena olah raga ini membawa suatu pengalaman baru, sebagai obat dari kejenuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=17&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"></h3>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Setiap orang yang sehat dapat mencoba olah raga arung jeram. Arung Jeram dapat dikategorikan sebagai olah raga petualangan, karena tidak saja mengandung unsur olahraga (sport), tetapi juga petualangan (adventure) dengan berbagai resikonya.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Apa yang mengilhami orang untuk bermain Arung Jeram? Para penggemarnya mengatakan karena olah raga ini membawa suatu pengalaman baru, sebagai obat dari kejenuhan kesibukan keseharian. Beberapa orang berpendapat bahwa Arung Jeram juga merupakan uji keberanian diri menghadapi tantangan. Dan karena Arung Jeram, untuk jenis-jenis tertentu merupakan olah raga beregu, maka dengan segenap unsurnya Arung Jeram dianggap puncak dari olah raga beregu. Ketika menghadapi jeram-jeram kita biasanya akan berteriak, ini juga melepaskan ketegangan-ketegangan dalam jiwa, dan merupakan obat yang ampuh bagi berbagai stress.<span id="more-17"></span></p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dengan mengarungi sungai, kita akan menikmati sudut yang lain dari keindahan pemandangan alam. Seperti di Sungai Alas yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Barat, kita akan menyaksikan keindahan alam, juga flora dan faunanya yang berbeda bila kita jelajahi dengan jalan biasa. Juga di Citarik, yang merupakan aliran sungai dari Taman Nasional Gunung Halimun, kita juga akan menyaksikan pemandangan alam, hewan-hewan air dan burung-burung, yang sulit kita nikmati di jalur lain.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kegiatan Arung Jeram sebenarnya telah ada sejak dahulu. Masyarakat tradisional di Kalimantan dengan kondisi alamnya yang menantang, dengan sungai-sungainya yang lebar dan sebagian berjeram, telah menjadikan kegiatan Arung Jeram sebagai bagian hidup keseharian. Dan di peradaban (yang katanya telah lebih) moderen, kegiatan Arung Jeram telah berubah menjadi kegiatan rekreasi dan olah raga petualangan.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Di negeri Paman Sam, kegiatan Arung Jeram sebagai olah raga dipelopori oleh Mayor John Wisley, seorang ilmuwan yang memimpin sebuah ekspedisi di sepanjang Sungai Colorado, pada tahun 1860-an. Perahu yang digunakanya terbuat dari kayu. Di akhir abad XIX, seorang ilmuwan bangsa Belanda memimpin ekspedisi menyusuri sungai Kapuas dan Mahakam di Kalimantan yang juga berjeram, dengan menggunakan perahu suku Dayak yang terbuat dari Kayu. Perjalanan ini menempuh waktu hampir satu tahun. Ketika Tahun 1994 rute perjalanan ini ditapaktilasi kembali, dengan perahu boat bermotor, diperlukan waktu 44 hari untuk mengarungi jalur ini.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong>Arung Jeram di Indonesia</strong></p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sejarah petualangan sungai di Indonesia dimulai sekitar awal tahun 1970-an dengan istilah olah raga arus deras (ORAD). Dipelopori oleh rekan-rekan pecinta alam dari Bandung dan Jakarta, olah raga ini kemudian menjadi salah satu olah raga petualangan yang paling diminati para pecinta alam. Pada tahun 1975, salah satu kelompok pencinta alam menggelar Citarum Rally .</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sekitar tahun 1975, kelompok pencinta alam mengembangkan juga olah raga ini dengan ekspedisi melintas Sungai Mahakam dan Sungai Barito, bersama dengan Frank Morgan, seorang pengacara profesional. Kelompok ini juga melaksanakan ekspedisi ke Sungai  Alas.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Perahu dan peralatan yang dipakai mulai meningkat kwalitasnya, dimulai dari ban dalam, perahu LCR tentara, sampai perahu karet khusus Sungai (River Raft), juga perahu Kayak. Hal ini mendorong Arung Jeram tumbuh cukup pesat, dan menarik minat para pengarung jeram untuk mengarungi sungai-sungai di daerah yang jauh dan penuh tantangan. Sungai Mahakam, Barito, Alas , Mamberamo dan Van Der Wall, kemudian juga diarungi. Di Pulau Jawa banyak sungai yang biasa diarungi. Citarik, Cimandiri, Citatih, dan Cimanuk di Jawa Barat. Jawa Tengah meiliki sungai Progo, Serayu dan Elo yang biasa diarungi. Jawa Timur memilki sungai Ireng-ireng di lereng Gunung Semeru, yang cukup menantang. Arung Jeram terus berkembang dengan cukup pesat. Namun, seiring dengan perkembangannya beberapa kecelakaan yang merenggut nyawa juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan arung jeram Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Telah beberapa kali diadakan kejuaraan arung jeram oleh beberapa perkumpulan di Indonesia, tetapi belum terdapat standard baku baik tentang penyelenggaraan, peralatan maupun penilaiannya. Pada tahun 1994 diadakan Kejuaraan Nasional Arung Jeram yang agak resmi di Sungai Ayung, Ubud-Bali. Di kejuaraan ini diterapkan standard penyelenggaran internasional, baik perlengkapan, materi lomba maupun perlengkapan dan penjuriannya. Kegiatan inilah yang kemudian dianggap pemicu kebangkitan Arung Jeram di Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Secara komersial wisata Arung Jeram diperkenalkan oleh SOBEK EXPEDITION yang kemudian membuka wisata Arung Jeram di Sungai Ayung Bali, sungai Alas di Aceh , sungai Saadan &#8211; Toraja, Sulawesi Selatan dan Citarik Jawa Barat. Saat ini sudah banyak operator wisata Arung Jeram, baik di Jawa, Bali, Sumatera Barat, Aceh dan Sulawesi Utara. Dengan berkembangnya wisata Arung Jeram ini, maka saat ini Arung Jeram telah menjadi olah raga petualangan sekaligus wisata dan rekreasi keluarga, siap menantang siapa saja yang ingin menikmati pengalaman baru, dan bukan lagi hanya kegemaran dari para petualang sejati.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dengan banyaknya potensi sungai di Indonesia yang dapat dikembangkan sebagai sarana wisata Arung Jeram, sementara disisi lain terdapat keterbatasan sumberdaya manusia dibidang ini yang belum terjembatani. Hal ini merupakan peluang dan tantangan tersendiri bagi para penggiat Arung Jeram di indonesia, untuk meningkatkan kualitas diri di bidang Arung Jeram.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dunia arung jeram di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang pesat pada saat ini. Banyak sekali bermunculan perkumpulan-perkumpulan arung jeram maupun dibentuknya divisi-divisi baru khusus arung jeram pada perkumpulan pencinta alam yang sudah ada. Demikian juga dengan tumbuhnya industri wisata Arung Jeram, yang memacu kegairahan berbagai kelompok masyarakat untuk ikut menikmati Arung Jeram. Tumbuhnya industri wisata arung jeram ini sayangnya tidak diimbangi dengan Standar Pelayanan dan Keselamatan Wisata Arung Jeram, karenanya seiring makin banyaknya peminat wisata, timbulnya korban juga bertambah. Kecelakaan arung jeram yang menimpa Kepala Divisi Komunikasi BPPN Raymond van Beekum lantaran tersipu air bah di sungai Cisedane, Bogor, sempat mengguncang bisnis wisata arung jeram di Jawa Barat selama lebih dari 1 (satu) tahun, karena luasnya liputan media massa. Dibentuknya Asosiasi Pengusaha Arung Jeram (IWA Indonesia White Water Association) diharapkan menjadi mitra bagi FAJI, untuk ikut membangun dunia arung jeram Indonesia yang aman dan berprestasi international.</p>
<h3 style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Utamakan Selamat </span></h3>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Diantara olah raga petualangan seperti Mendaki Gunung (Mountaneering), Panjat Tebing (Rock Climbing), dan juga Penyelusuran Gua (Caving), Arung Jeram secara rata-rata dianggap lebih menantang, beresiko dan berbahaya. Hal ini karena Arung Jeram harus menghadapi rintangan alam yang nyata, dan kadang tidak dapat diduga dan datangnya tiba-tiba. Tetapi seorang penulis petualangan kenamaan, William Mc. Ginnes, menyatakan bahwa sebenarnya Arung Jeram tak lebih beresiko dibanding mengemudi di jalan raya. Walu begitu, pengarungan sungai haruslah disesuaikan dengan kemampuan, ketrampilan dan keadaan alam. Karenanya dalam ber-Arung Jeram keselamatan haruslah tetap menjadi pertimbangan utama.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Sungai berjeram dibagi dalam berbagai tingkat kesulitan (kelas), dari Kelas I (termudah) sampai Kelas VI (tak boleh diarungi). Seperti juga olah raga petualangan lainya Arung Jeram juga memiliki 2 macam bahaya utama ; bahaya dari diri sendiri, termasuk persiapan dan perlengkapan (Subjective Danger) dan bahaya dari alam (Objective Danger). Untuk Arung Jeram, bahaya dari alam terutama adalah sifat dari sungai itu sendiri. Demikian juga perlengkapan, kalau tidak tepat dan kurang lengkap akan menimbulkan bahaya yang nyata (Kecelakaan). Adapun untuk menghindari bahaya dari diri sendiri, seseorang harus berlatih, berlatih dan belajar, baik ketrampilan maupun ilmu-ilmu pendukungnya.</p>
<h3 style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Federasi Arung Jeram </span><span style="font-size:12pt;">Indonesia</span><span style="font-size:12pt;"></span></h3>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Dengan terus berkembanganya Arung Jeram di Indonesia, para penggiatnya merasa bahwa perlu suatu wadah yang dapat membina kegiatan Arung Jeram dengan lebih terorganisir, memiliki wawasan dan tujuan yang jelas. Pada bulan Maret 1996, oleh 38 Organisasi Pecinta Alam, Klub Arung Jeram Amatir, Profesional dan Komersial, telah dibentuk Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), yang kemudian terpilih menjadi Ketua adalah Amalia Yunita, seorang penjelajah dan petualang handal anggota Aranyacala Universitas Trisakti, yang kini aktif diperusahaan Wisata Arung Jeram PT. Lintas Jeram Nusantara.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) antara lain bertujuan mengembangkan Arung Jeram sebagai olah raga petualangan menjadi olah raga prestasi dan lebih aman, serta meningkatkan sumber daya manusia dibidang Arung Jeram. Dalam program -programnya, FAJI akan membuat pelatihan-pelatihan berjenjang, kejuaraan-kejuaraan dan invitasi, menetapkan norma keselamatan (safety codes), standarisasi peralatan dan teknik, serta upaya-upaya lainnya untuk memasyarakatkan olah raga Arung Jeram. Selain berwawasan olah raga dan petualangan, FAJI juga berwawasan dan memiliki program-program lingkungan, terutama berfokus pada masalah sungai.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Setelah dipimpin oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Harry Triono tahun 2001-2002, saat ini FAJI diketuai oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Safzen Nurdin. Pada tahun 2001 PB FAJI telah menjadi bagian dari organisasi rafting internasional (IRF) serta terus melaksanakan upaya konsolidasi dan membentuk Pengda-pengda. Dan pada bulan Oktober 2001, PB FAJI untuk pertama kalinya mengirim tim untuk berlaga di Kejuaraan Internasional yang diselenggarakan IRF. Dan di bulan November 2001, FAJI kembali bekerjasama dengan Korps Marinir dan TSA Komunika menyelenggarakan Kejurnas Arung Jeram II di Sungai Citarum Jawa Barat. Kejurnas II ini diikuti oleh 81 club dari berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Beberapa daerah juga menyelenggarakan kompetisi baik tingkat local, nasional maupun Internasional; Asahan White Water Festival 2000, Asahan Race 2001 &amp; 2003, Piala Gubernur Sumut 2001-2, Kejuaraan Arung Jeram Terbuka Rongkong 2004, LACi I &amp; 2 Jawa Barat 2004 dsb. Hal ini menandai semakin maraknya kompetisi arung jeram di Indonesia.</p>
<p>Sejak banjir pertama kali melanda Jakarta, 29 Januari 2002, FAJI bergabung bersama Korps Marinir, ORARI, Indonesia Offroad Federation, KSR UKI, kelompok pencinta alam se-Jakarta, ikut serta dalam upaya evaluasi korban banjir . Pada saat pasca banjir PB FAJI memfasilitasi sekretariat POSKO SIAGA BANJIR ARUNG JERAM PEDULI dengan misi utama siaga evakuasi korban banjir dan distribusi logistik di tempat yang sulit dijangkau dengan menggunakan perahu karet atau kendaraan 4 X 4. Dalam penanganan bencana Tsunami di Aceh &#8211; Nias, FAJI bergabung dengan Global Rescue Network (GRN) dalam melakukan tugas kemanusiaan Operasi Pesisir Barat Aceh Nias.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Saat ini Pengurus Besar FAJI telah memiliki perwakilan di 10 propinsi dan di tahun 2005 ini diharapkan bertambah menjadi 15 Pengda. Untuk publikasi FAJI telah menerbitkan Majalah Kegiatan Alam Terbuka JELAJAH, yang menuliskan tidak saja kegiatan Arung Jeram juga kegiatan alam terbuka lainnya, dan meluncurkan Web Site <a href="http://www.faji.org/">http://www.faji.org</a>.</p>
<p style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><em>Oleh : Sekretariat PB FAJI Oktober 2005</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=17&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/arung-jeram-indonesia-selayang-pandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pacu Adrenalin di Jeram Batang Tarusan</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/pacu-adrenalin-di-jeram-batang-tarusan/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/pacu-adrenalin-di-jeram-batang-tarusan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 08:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>
		<category><![CDATA[adventure]]></category>
		<category><![CDATA[advnture]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[arng]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[jerAm]]></category>
		<category><![CDATA[jerm]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[mapala]]></category>
		<category><![CDATA[ngarung]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[petualngan]]></category>
		<category><![CDATA[raft]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH pernah berarung jeram? Kalau belum, tidak ada salahnya anda mencoba olahraga ekstrim yang satu ini. Olahraga ini memang lumayan berbahaya, karenanya tidak sedikit orang yang menjadi korban dan menemui ajalnya ditelan keganasan jeram-jeram sungai. Namun kegiatan ini tidak berkurang peminatnya, malah di beberapa daerah, arung jeram menjadi komoditi pariwisata yang menjanjikan. Setiap orang dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=14&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">SUDAH pernah berarung jeram? Kalau belum, tidak ada salahnya anda mencoba olahraga ekstrim yang satu ini. Olahraga ini memang lumayan berbahaya, karenanya tidak sedikit orang yang menjadi korban dan menemui ajalnya ditelan keganasan jeram-jeram sungai. Namun kegiatan ini tidak berkurang peminatnya, malah di beberapa daerah, arung jeram menjadi komoditi pariwisata yang menjanjikan. Setiap orang dari anak-anak sampai dewasa dapat mencoba berarung jeram dengan membayar Rp150.000 s/d Rp300.000 dengan lama pengarungan yang dapat dipilih sendiri oleh wisatawan. Tentunya semua resiko dapat diminimalisir dengan menggunakan safety procedure yang benar dan mengikuti arahan dari pemandu profesional.<span id="more-14"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Olahraga arung jeram pertama kali dikenal di Indonesia pada era 70-an dengan diadakannya Citarum Rally I pada 17 April 1975. Selanjutnya, berbagai club arung jeram bermunculan seperti Kapinis, Arus Liar, Riam Jeram, Sobek, Sumatera Savage, Jeram Alas, Fausta Bogor dsb. Kegiatan ini juga terus merambah ke kampus-kampus melalui aktivitas mahasiswa pecinta alam (Mapala) seperti Mapala UI, Aranyacala Trisakti, Mapala Unand dan hampir di seluruh mapala di Indonesia. Biasanya setiap tahun selalu diadakan kejuaraan arung jeram tingkat nasional atau daerah yang semakin menyuburkan perkembangan kegiatan yang diwadahi Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) ini. Arung Jeram menjadi salah satu olahraga prestasi yang memunculkan atlet-atlet profesional dan siap bertanding ke ajang internasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumatera Barat, sebagai salah satu provinsi yang dianugerahi Tuhan dengan kekayaan dan keindahan alam yang melimpah memiliki banyak lokasi wisata petualangan. Termasuk di dalamnya yaitu sungai-sungai yang layak untuk berarung jeram dengan berbagai variasi tingkat kesulitan. Sebut saja, Batang Tarusan, Batang Bayang, Batang Sinamar, Batang Kuantan, Batang Sangir dan masih banyak lagi sungai yang belum terekspose. Sayangnya, perkembangan arung jeram di daerah ini masih sangat lamban dikarenakan kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah untuk mengembangkan potensi wisata petualangan yang satu ini. Padahal arung jeram dapat mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara seperti halnya kegiatan surfing (selancar) di Kepulauan Mentawai yang terkenal ke seluruh dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu kesan berbahaya dan biaya mahal yang melekat pada kegiatan ini juga menyebabkan kurang tersosialisasinya aktivitas ini. Upaya untuk memajukan kegiatan ini haruslah melibatkan semua elemen masyarakat dan pemerintah agar dapat bermanfaat bagi daerah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Batang Tarusan, Menyajikan Petualangan Tiada Henti</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi anda yang berasal dari daerah Pesisir, tentunya akrab dengan Batang Tarusan. Sungai ini terlihat jelas dari jalan lintas Padang – Painan yang berhulu dari Danau Diatas dan memiliki debit air yang relatif stabil meskipun dimusim kemarau. Sungai yang termasuk wilayah Kabupaten Pesisir Selatan ini sangat layak diarungi dengan tingkat kesulitan menengah (grade 2+ sampai 3). Di musim penghujan, tingkat kesulitannya akan bertambah, mencapai grade 4+. Perjalanan menuju titik start pengarungan dapat ditempuh selama 1,5 – 2 jam dari Kota Padang dengan ongkos Rp8.000. Transportasi yang lancar merupakan salah satu faktor pendukung untuk mengembangkan Batang Tarusan sebagai objek wisata petualangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengarungan biasa dimulai dari desa Taratak tepatnya dari depan SDN 45 Taratak yang terletak lebih kurang 20 menit dari jalan lintas dengan lama pengarungan 2 – 3 jam. Bagi yang telah berpengalaman, dapat memulai pengarungan dari daerah hulu lagi tentunya dengan jeram-jeram yang lebih menantang dan kemiringan yang lebih ekstrim. Karakter sungai daerah hulu yang sempit juga menambah cepatnya arus sungai dan menghadirkan jeram-jeram besar dan turunan (drop) yang dapat menyebabkan perahu terbalik apabila telat bermanuver. Adrenalin anda akan dipacu habis-habisan pada saat melewati jeram-jeram Batang Tarusan. Sepanjang pengarungan, anda akan disuguhi pemandangan indah khas perbukitan yang terasa asri dan cukup terjaga kelestariannya. Hijaunya alam dipadukan dengan jernihnya air sungai serta ganasnya jeram tentunya akan memberikan kenikmatan tersendiri bagi anda yang menyukai kegiatan petualangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak jarang pengarung jeram (rafter) beristirahat di tengah pengarungan untuk menikmati kebesaran Tuhan ini. Anda juga akan melintasi daerah persawahan penduduk yang juga memberikan suasana khas pedesaan ditambah keramahan penduduk yang membuat anda semakin betah dan ingin kembali berarung jeram di sini. Tentunya anda juga harus tetap berkonsentrasi melaksanakan perintah kapten pada saat melewati jeram-jeram tertentu yang rentan untuk membalikkan perahu. Keahlian kapten dalam memberikan aba-aba dan membaca jalur sangat diperlukan demi keamanan dan keselamatan pengarungan. Anda juga harus melengkapi diri dengan perlengkapan standar pengarungan seperti helm, pelampung, paddle (dayung) dan pakaian yang tidak mengganggu pergerakan agar dapat mengurangi risiko apabila terjadi trouble.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman tentang keselamatan diri pribadi dan tim juga harus dimiliki oleh semua anggota tim pengarungan. Contohnya saja apabila anda terlempar, anda harus tahu bahwa hanyut di jeram tidak sama dengan hanyut di sungai berarus tenang. Posisi badan harus menghadap ke atas (terlentang) dengan kaki yang mengarah ke hilir sungai bersiap untuk menghadapi rintangan yang mungkin ada di depan. Kondisi air yang deras menyebabkan kemampuan berenang tidak berpengaruh pada saat kita hanyut di jeram. Kita baru akan bisa menepi pada saat arus sudah tenang atau bila diselamatkan oleh rekan dengan menggunakan tali lempar (throw bag). Karenanya, kita juga harus mengetahui bagaimana cara menyelamatkan korban yang hanyut serta memberikan pertolongan pertama apabila rekan mendapatkan cedera. Setelah lebih kurang 2 jam pengarungan dengan jeram yang terus menerus menghajar dan menguras tenaga, anda akan memasuki jeram terakhir yaitu jeram Goodbye. Dinamakan Goodbye, karena setelah ini anda akan memasuki finish. Setelah finish, arus sungai sudah berubah menjadi tenang sehingga tidak bisa lagi untuk berarung jeram.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun seperti namanya, jeram ini benar-benar melengkapi kepuasan anda berarung jeram di Batang Tarusan. Siraman air dijamin akan membuat anda basah kuyup dan tenaga terakhir harus dikeluarkan semaksimal mungkin agar perahu tidak terbalik. Batu besar yang menghadang membuat anda harus bermanuver ke kanan agar tidak menabrak batu ini. Terlambat sedetik saja, perahu akan menabrak dan terbalik atau tersangkut (wrap) dan sulit untuk dilepaskan. Biasanya, para penggiat arung jeram memilih untuk berkemah di finish atau di beberapa lokasi di tepian sungai yang bisa dijadikan camping ground. Dengan bermalam, anda akan dapat mengulangi kegiatan ini berkali-kali sampai bosan. Namun sebenarnya tidak ada kata-kata bosan dalam berarung jeram.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena ketika anda mengarungi sungai yang sama, pada setiap pengarungan selalu terjadi variasi tantangan dan pengalaman baru. Di samping itu, bagi yang memiliki hobi memancing, dapat menyalurkan hobinya di sela-sela waktu istirahat pengarungan karena terdapat beberapa lubuk yang biasa dijadikan tempat memancing oleh masyarakat setempat. Jadi sangatlah layak kalau Batang Tarusan dijadikan tujuan wisata anda selanjutnya. Jika anda termasuk orang yang sibuk, waktu akhir pekan dapat dimanfaatkan untuk sedikit menyegarkan otak anda setelah seminggu penuh disibukkan dengan rutinitas. Takut merasa terisolir? jangan khawatir, saat ini sinyal telpon genggam (handphone) bisa ditangkap dengan jelas dan bersih di daerah ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau saja pemerintah daerah mau mengembangkan potensi wisata arung jeram di daerah ini, maka Batang Tarusan dapat menjadi salah satu objek wisata alternatif di Sumatera Barat. Penduduk setempat, khususnya yang berada di sepanjang aliran Batang Tarusan tentunya dapat memanfaatkan kedatangan wisatawan. Untuk membantu perekonomian misalnya saja dengan menjual suvenir khas daerah berupa kerajinan tangan yang banyak terdapat di sini. Kita tunggu saja tindakan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi Batang Tarusan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=14&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/pacu-adrenalin-di-jeram-batang-tarusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menari di Air Manna, Menembus Jeram Perawan Lahat</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/menari-di-air-manna-menembus-jeram-perawan-lahat/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/menari-di-air-manna-menembus-jeram-perawan-lahat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 08:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Mirip &#8211; Bisa disimpulkan, karakteristik jeram Air Manna hampir mirip Sungai Asahan di Sumatera Utara. Arusnya cenderung agresif dan liar. Di musim hujan, bentukan sungainya bisa mencipta rangkaian standing waves panjang dan saling terhubung (atas). Kembali ke alam, apa pun bentuknya, selalu menjadi momen paling menyenangkan. Alasan itu juga yang memacu saya untuk melawat ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=12&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mirip &#8211; Bisa disimpulkan, karakteristik jeram Air Manna hampir mirip Sungai Asahan di Sumatera Utara. Arusnya cenderung agresif dan liar. Di musim hujan, bentukan sungainya bisa mencipta rangkaian standing waves panjang dan saling terhubung (atas).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kembali ke alam, apa pun bentuknya, selalu menjadi momen paling menyenangkan. Alasan itu juga yang memacu saya untuk melawat ke Desa Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat &#8211; Sumatera Selatan ini. Selama dua hari, saya dan beberapa rafters (pengarung jeram) coba menjajal ketangguhan jeram-jeram Sungai Air Manna yang bercokol di kelebatan rimba. Seperti wilayah pinggiran Sumatera lainnya, empat jam perjalanan Lahat &#8211; Tanjung Sakti itu penuh kelokan tajam. Sesekali, terlihat jurang menganga. Tapi di lain waktu, tampak kuning padi meliuk-liuk di antara nuansa hijau belantara raya dan hamparan perkebunan kopi yang lama-kelamaan semakin mendominasi pemandangan.<span id="more-12"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setibanya di Tanjung Sakti, kami langsung bersua dengan Erwin Gumay, penggiat alam bebas dari Lahat. Kedatangan kami juga disambut senyum ramah penduduk setempat yang menyongsong di muka dusun. Bahkan, Drs. Lukman Panggarbesi, camat desa itu berada di antara mereka. Uniknya, ia sendiri pun rela bergabung dan siap memandu kami melakukan survei jeram siang hari itu juga. Sebagai aktivitas pra-pengarungan, kegiatan pertama itu hanya berkutat pada penelusuran data-data sungai. Mulai dari pencarian entry point, menandai bentukan dan tingkat kesulitan jeramnya, hingga ke soal penentuan jalur bagi tim darat yang akan mengiringi selama pengarungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tentu, bukan perkara enteng melakukan hal itu. Memburu entry point yang mudah kami jangkau dari tepi jalan setapak penduduk, misalnya. Terpaksa golok dan parang dikeluarkan demi menerabas kepungan hutan perawan nan lebat ini.Herannya, sepanjang menyi-sir lembah penuh onak duri, tak tampak satu pun bekas tebangan liar. Yang pasti, sejauh pengamatan mata dan atas informasi penduduk setempat yang saya peroleh, hutan yang mengepung sungai ini masih sangat alami dan terjaga keasliannya. Dan tampaknya, baik penebang maupun para cukong kayu dari kota-kota besar masih &#8220;silap mata&#8221; dengan kelestarian itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terbukti, selama puluhan tahun, hujan lebat tak pernah menjadikan penduduk wilayah ini kerepotan dengan musibah banjir dan longsor. Bagi peminat arung jeram, tentu saja menguntungkan, sebab debit air sungai yang berhulu di Gunung Dempo (3.159 mdpl) ini tak pernah surut, kendati di musim kemarau seperti sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hari Pertama</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sehari usai pendataan, ihwal kehebatan Air Manna total terbukti. Di hari pertama, kami membagi dua etape pengarungan. Etape pertama bermula dari dusun Sindang Panjang (desa Tanjung Sakti) hingga dusun Gunung Kerto. Etape selanjutnya berlangsung di antara jeram-jeram dusun Gunung Kerto dan berakhir di dusun Simpur. Total 19 kilometer yang akan ditempuh hari ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bara semangat kepalang berkobar di dada, pantang untuk mundur. Apalagi, saya, Dompi, Jack, Erwin Gumay dan rekannya, Andi, sudah bersiap dalam posisi mendayung. Maka, selepas doa bersama, dayung pun dikayuh. &#8220;Majuu&#8230;!&#8221; aba-aba Jack. Belum jauh jarak perahu dari tepi sungai. Mendadak, kesialan menimpa. Saat perahu melabrak jeram pertama, benda karet itu berguncang hebat. Sialnya, pijakan kaki saya kurang mantap, alhasil, tubuh saya limbung seketika dan terlempar dari perahu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untunglah, di antara derasnya gelombang standing waves (jeram berbentuk ombak berdiri) tersebut, Andi masih bisa meraih tangan saya. Sigap. Tapi selanjutnya, malah gantian dia yang bernasib serupa. Kendati selamat, pemuda kelahiran Lahat ini sempat dua kali timbul tenggelam dipermainkan buih-buih jeram. Sampai menjelang akhir etape satu, kami belum merasakan rintangan yang berarti. Kecuali satu buah jeram besar berbentuk penurunan (drop) setinggi satu meter. Sesuai aba-aba Jack, perahu masuk perlahan ke mulut jeram itu. Tepat, begitu mulut jeramnya habis, kayuhan semakin diperkuat untuk menghindari hisapan arusnya ke tebing. Perahu lolos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pengarungan terasa makin seru, saat memasuki dusun Gunung Kerto. Aliran Air Manna menyatu dengan Air Suka Merindu. Akibatnya debit air menjadi lebih tinggi. Ini terbukti dengan standing wave yang dari jauh terlihat biasa saja, ternyata malah sebaliknya. Besar dan menyeramkan, membuat bentuk perahu seolah mengecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selepas jeram itu, perahu menepi untuk rihat. Puas menjerang rihat, pengarungan kembali berlanjut. &#8220;Siapkan konsentrasi penuh, kita tak tahu ada apa di depan,&#8221; komando Jack, seraya mulai mendayung. Betul saja. Satu lidah riam menyambut, berbuih dan sangat menantang. Terbentuk dari dua buah jeram hydraulic (terbentuk karena aliran vertikal). Demi memperoleh siasat untuk melaluinya dengan gemilang, kami melakukan scouting (pengintaian jeram) di tepi sungai berbatu. &#8220;Kita ambil jalur kanan. Usahakan jangan sampai ada yang jatuh,&#8221; tukas skipper (juru kemudi) kami itu, lantang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kiranya, inilah saat paling tepat membentrokkan nyali dan rasa takut yang porsinya sudah tak jauh berbeda. Maka, perlahan dayung dikayuh, seiring aba-aba Jack mengarahkan perahu masuk ke dalam amukan jeram itu. Dalam hitungan detik, saya sulit mengingat apa-apa lagi. Yang ada, hanya berkonsentrasi penuh mendengar arahan skipper, sambil mendayung cepat laksana kemasukan setan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mendebarkan, memang. Apalagi, saat saya mengetahui, perahu kami gagal menghindari jalur kanan yang pertama. Karena perahu miring 45 derajat, Dompi dan Andi terlempar ke luar. Nyaris, Jack pun ikut terlempar dan dilalap air. Tapi dengan kesigapan tinggi ia bisa menghindarinya. Di tengah situasi kacau balau, Erwin yang duduk di sebelah saya terjerembab ke bagian dalam perahu. Tak ayal, posisi perahu menjadi kurang seimbang, bisa terbalik. Terpaksa, agar itu tidak terjadi, saya mengimbangi berat perahu dengan berpindah posisi ke bagian kanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hari Kedua</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memasuki hari kedua, tingkat kesulitan sedikit berkurang. Kendati begitu, pengarungan di sepanjang rute Dusun Simpur hingga desa Pulau Timun itu tetap berjalan seru dan menegangkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kebanyakan jeram di 10 kilometer rute tersebut hanya berkisar pada standing waves. Kami pun banyak berjumpa patahan sungai yang tingginya bisa melebihi satu setengah meter atau lebih. Hanya Jeram Lubuk Sibayang, sebuah jeram yang sempat membuat otak kami lama berputar untuk menentukan jadi atau tidaknya diarungi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bentuk Lubuk Sibayang berupa patahan setinggi 1,5 meter. Tepat di depannya, sebuah batu besar sudah siap menghadang laju perahu. Jika stag di situ, risikonya bisa terbalik, Maka, bersiaplah diempas rangkaian standing waves yang jaraknya pun tak berjauhan dengan patahan tersebut. Nasib baik, lagi-lagi, masih berpihak pada tim perahu. Perlahan dan penuh kewaspadaan mereka menyongsong lidah jeramnya. Dan, begitu melewati patahan itu, mereka lantas mendayung kuat, sehingga benda karet itu tak sampai tertahan di batu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menjelang petang, tim tiba perahu di lokasi finish dusun Pulau Timun. Saya, Armen, dan Ican yang menjadi tim darat, tercengang menyaksikan kerumunan penduduk. Tampaknya, mereka tak sabar lagi ingin menyaksikan &#8220;pemandangan&#8221; tak lazim di dusun mereka yang terpencil itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Malamnya, dalam suasana keluarga desa nan damai di pelukan rimba belantara, kami menghabiskan waktu. Bercengkerama ihwal ketegangan-ketegangan yang kami alami selama dua hari ini. (m. latief)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Copyright © Sinar Harapan 2003</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=12&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/menari-di-air-manna-menembus-jeram-perawan-lahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selancar Sungai (Riverboarding)</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/selancar-sungai-riverboarding/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/selancar-sungai-riverboarding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>
		<category><![CDATA[adventure]]></category>
		<category><![CDATA[advnture]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[arng]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[jerAm]]></category>
		<category><![CDATA[jerm]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[mapala]]></category>
		<category><![CDATA[ngarung]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[petualngan]]></category>
		<category><![CDATA[raft]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Eiger Adventure News (EAN) Edisi 47 #Juli-Agustus Kegiatan selancar sungai mirip belajar naik sepeda, mengatur keseimbangan, bagaimana membelok, dan sebagainya. Lebih mudah langsung dicoba daripada diuraikan teorinya. Jadi, tidak usah melanjutkan membaca artikel ini kalau hanya ingin tahu cara memainkannya. Tapi, apa sebenarnya selancar sungai itu? Ada teman yang menggambarkannya sebagai bersepeda downhill tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=9&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong>Sumber: </strong>Eiger Adventure News (EAN) Edisi 47 #Juli-Agustus <span style="font-weight:bold;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kegiatan selancar sungai mirip belajar naik sepeda, mengatur keseimbangan, bagaimana membelok, dan sebagainya. Lebih mudah langsung dicoba daripada diuraikan teorinya. Jadi, tidak usah melanjutkan membaca artikel ini kalau hanya ingin tahu cara memainkannya. Tapi, apa sebenarnya selancar sungai itu? Ada teman yang menggambarkannya sebagai bersepeda downhill tanpa rem. Well, tidak sepenuhnya begitu. Berselancar di atas (atau kadang di bawah) sebilah papan mengarungi arus, menembus jeram, ada seninya. Makin dikuasai makin dapat kita kendalikan, kita lambatkan atau percepat, meliuk seperti pemain skateboard, bahkan diajak berakrobat seperti BMX.<span id="more-9"></span> <span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong>Sejarah </strong><br />
Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Awalnya muncul dari kebosanan sekelompok pemandu rafting di Perancis. Mereka menginginkan berenang di sungai dengan cara yang lebih menarik, lebih menantang. Maka orang-orang yang sudah sangat akrab dengan karakter sungai itu mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, lalu terjun. Ya, sesederhana itulah cikal bakal lahirnya riverboard. Harus diakui, orang Perancis memang paling kreatif menciptakan tantangan yang tak terbayangkan sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Salah satu faktor tantangan dalam kegiatan yang juga dikenal dengan sebutan hydrospeed ini adalah kecepatan. Pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam. Sama sekali tidak cepat jika dibandingkan kebut-kebutan dengan sepeda motor. Namun, tantangan lainnya adalah hubungan langsung antara pelaku dengan sungai. <span>“</span>It<span>’</span>s just between you and the river<span>”</span>, begitu semboyan para pecintanya. Papan selancar modern yang umumnya terbuat dari karet busa itu berketebalan 8-12 cm. Di air sungai yang bergolak, terkadang papan setebal itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard, hampir sepanjang waktu kita berada sejajar dengan permukaan air. Sisanya, sebentar terbenam sebentar terlempar ke udara. Itu sebabnya ada situs internet tentang selancar sungai memasang judul Face Level (<a href="http://www.facelevel.com/"><span style="color:windowtext;">www.facelevel.com</span></a>).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Tak lama berselang, orang-orang Perancis pencetus riverboarding ini mengganti pelampung yang awalnya sekadar diikat dengan karet busa. Bentuknya pun terus dikembangkan, hingga mencapai bentuk dasar papan selancar sungai yang dikenal sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kini, riverboarding sudah menyebar luas di Eropa, Amerika dan Australia serta Selandia Baru. Namun kata Robert Carlson, salah satu tokoh riverboarding modern, sebenarnya kegiatan hydrospeed sudah ada sejak zaman prasejarah! Bagaimana bisa? Menurut Carlson, siapa pun yang melompat masuk ke sungai dengan alat pengapung apa pun, lalu berselancar mengikuti arus, dapat dikategorikan sebagai peselancar sungai. Misalnya, ada kelompok-kelompok manusia purba yang memanfaatkan pohon tumbang atau balok kayu sebagai alat transportasi. Sampai sekarang pun kegiatan semacam itu tetap ada. Contoh, coba main ke desa-desa dekat sungai. Anak-anak usia SD dengan santai berceburan di sungai deras acapkali hanya dengan batang pisang atau bambu. Seolah jaman prasejarah masih berlangsung.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Kenapa riverboarding sangat terlambat masuk Indonesia? Rasanya bukan hanya soal harga, walaupun harga riverboard di internet rata-rata di atas 3 juta kalau dirupiahkan. Mungkin yang lebih berperan adalah lambatnya arus informasi. Sekarang, dengan mudahnya kita bisa berselancar di internet, mudah-mudahan arus informasi jadi sekencang arus sungai sehabis hujan di hulu, sehingga kita di Indonesia segera dapat menyelancari sungai-sungai kita yang tak terhitung potensi dan tantangannya, bahkan berpartisipasi dalam lomba-lomba hydrospeed yang sudah banyak digelar di mancanegara.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">
<p></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong>Pengembangan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Seperti halnya hampir semua kegiatan di alam terbuka, selancar sungai bisa menjadi kegiatan santai hingga bentuk petualangan yang sangat berbahaya. Para petualang riverboarding mengejar tantangan hingga ke sungai-sungai buas di Afrika, antara lain Sungai Zambesi, salah satu Everest-nya arung jeram. Di lain sisi, banyak sungai yang membelah kota di Eropa ramai pada akhir minggu oleh para peselancar, mereka melepas ketegangan syaraf dengan ber-freestyle, atau melepas ketegangan otot dengan ber-jogging di atas riverboard. Sayang, kebanyakan sungai kota di negara kita kurang menarik selera karena harum sampahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Mirip rafting, canoeing dan kayaking, riverboarding juga dikompetisikan dalam beberapa mata lomba. Selain kecepatan, ada halang rintang, slalom, bahkan rally jarak jauh. Dan masih terbuka banyak kemungkinan untuk menggabungkannya dengan jenis kegiatan lain, seperti bersepeda cross country, trail running, panjat tebing, sehingga menjadi multilomba yang kreatif.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Selain sehat fisik dan kuat mental, ketrampilan renang terbukti membantu kita bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif, yaitu yang datang dari diri kita sendiri. Tapi, seperti juga pada jenis-jenis kegiatan di alam terbuka yang lain, selalu ada bahaya obyektif, yaitu yang datang dari alam atau medan. Selancar sungai sepenuhnya aman, jika kita mampu membaca karakter sungai dan tanda-tanda alam serta mematuhinya. Setelah mengenal alat di tepian, memfasihkan teknik-teknik di jeram kelas III dan IV, tidak bijaksana langsung terjun ke kelas V tanpa ba-bi-bu. Petualang yang sudah kenyang asam garam sungai tidak menganggap scouting, meninjau bagian sungai yang akan dilalui, sebagai kurang heroik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Selancar sungai membutuhkan mental yang kuat dan tidak mudah panik. Karena menghadapi jeram, apalagi yang berenteng, dituntut untuk mampu mengambil keputusan dengan sangat cepat. Menghadapi standing wave 3 meter, atau bahkan melompati air terjun kecil, pasti akan memompa kencang adrenalin. Dan mungkin itulah yang menyebabkan kita kembali lagi dan lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span><strong>Selamat mencoba !!! (Harjanto Suwarno)</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:underline;"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=9&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/selancar-sungai-riverboarding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Lintas Musi : MENEMBUS JALUR PERAWAN</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/ekspedisi-lintas-musi-menembus-jalur-perawan/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/ekspedisi-lintas-musi-menembus-jalur-perawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>
		<category><![CDATA[adventure]]></category>
		<category><![CDATA[advnture]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[arng]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[jerAm]]></category>
		<category><![CDATA[jerm]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[mapala]]></category>
		<category><![CDATA[ngarung]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[petualngan]]></category>
		<category><![CDATA[raft]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngarung.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Laporan: Sutrisman Dinah, Gemapala Wigwam FH Unsri PENGANTAR: Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam (Gemapala) Wigwam Fakultas Hukum Unsri, tanggal 18-31 Juli menyelusuri Sungai Musi mulai dari Desa Tanjungraya (Kecamatan Pendopo, Lahat) sampai Kota Palembang. Pengarungan hari pertama, 22 Juli 2006 merupakan jeram eksotis membelah hutan tropis Bukit Barisan sekitar 40 kilometer dari keseluruhan lebih dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=3&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong>Sumber: </strong>Laporan: Sutrisman Dinah, Gemapala Wigwam FH Unsri<span style="color:black;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">PENGANTAR:  Gerakan Mahasiswa  Pencinta Alam (Gemapala) Wigwam Fakultas Hukum Unsri, tanggal 18-31 Juli  menyelusuri Sungai Musi mulai dari Desa Tanjungraya (Kecamatan Pendopo, Lahat) sampai Kota Palembang. Pengarungan hari pertama, 22 Juli 2006 merupakan jeram eksotis membelah hutan tropis Bukit Barisan sekitar 40 kilometer dari keseluruhan lebih dari 400 kilometer hingga Jembatan Ampera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">LAYAKNYA sebuah ekspedisi, manajemen perjalanan Ekspedisi Lintas Musi Wigwam 2006, persiapan berlangsung enam bulan. Termasuk latihan fisik di Kampus Unsri dan latihan &#8220;kering&#8221; di perairan Sungai Musi di Palembang. Hari keberangkatan 18 Juli di Kampus Bukit-esar, dan dilepas dengan jamuan makan siang di kantor Harian Umum <em>Sriwijaya Post</em>, tim berjumlah 22 orang bergerak menggunakan dua mobil minibus <em>Rescue</em> pinjaman dari PDI-Perjuangan Sumsel.<span id="more-3"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;">Menjelang malam, tim tiba di kawasan wisata air terjun Bedegung (Tanjungagung, Muaraenim) dan disambut Kepala Dinas Pariwisata Muaraenim Achmad Jisi SH, lengkap dengan sajian khas lemang <em>pulut</em> (ketan putih). Esoknya, seharian penuh, seluruh anggota tim berlatih di jeram Sungai Enim. Latihan di arus deras Sungai Enim dilakukan, untukkesiapan fisik dan psikologis tim menghadapi hulu Sungai Musi. Di  sini, tim menggunakan dua perahu (<em>rubber/river boat</em>) milik Enim Jeram; Dua perahu ini juga digunakan selama pengarungan disamping dua perahu lainnya milik Badan Kesbang-Linmas Pemprov Sumsel.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Pemanasan di jeram Sungai Enim cukup menguras tenaga, dan perjalanan dilanjutkan hingg lewat tengah malam saat tiba di Pelangkenidai (Dempo-Utara, Pagaralam). Jadwal pemanasan di Sungai Lematang ditunda, setelah menyaksikan hasil latihan di Sungai Enim. Gantinya, latihan di hulu Sungai Musi perbatasan Sumsel-Bengkulu hingga Jembatan Musi di Tanjungraya. Saat tiba di Tanjungraya, terus terang, nyali sejumlah anggota tim sempat ciut mendengar cerita tentang jalur sepanjang 12 kilometer, karena jalur ini jarang dilewati &#8211;termasuk penduduk setempat&#8211; kecuali pemancing &#8220;nekat&#8221; dan bernyali baja. Dari survei darat dua bulan sebelumnya, jalur Tanjungraya-Kembahangbaru memang tidak diperoleh informasi. Peta rupabumi (kontur) skala 1: 50.000 yang diterbitkan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) lembaran Tanjungraya, justeru membingungkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Banyak tanda-tanda di peta yang jarang ditemui, misalnya, punggungan yang masuk ke badan sungai atau ada tanda yang menunjukkan bukit di tengah sungai. Lagipula, peta tidak mencantumkan badan sungai berupa jeram atau flat (ulak-an, sebutan bahasa lokal) maupun palung sungai (lubuk). Sebut saja misalnya Lubuk Genting, arus sungai yang menyempit hingga empat meter. Secara teori, bisa dibayangkan, bagaimana arus sungai selebar 40 meter tiba-tiba di satu titik menyempit hingga empat meter. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Membayangkan </span><span style="color:black;">medan</span><span style="color:black;"> seperti, nyali langsung <em>drop</em> ke titik nol; Ibarat pipa air sepuluh inci, tiba-tiba di bagian ujung satu inci (2,5 sentimeter), perhitungannya setara dengan semprotan hidran pipa pemadam kebakaran. Belum lagi <em>ruap </em>(sebutan lokal) atau <em>hole</em>, pusaran air di bawah jeram, yang disebut-sebut kerap mematahkan rakit rangkaian 20 bambu pemancing atau rakit pembawa barang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Malamnya, kembali membuka peta untuk melihat perbedaan ketinggian permukaan air di lokasi &#8220;tertutup&#8221; (informasi). Jarak 12 km dari tempat start dengan Desa Kembahangbaru hampir 100 meter, asumsinya akan ada air terjun kurang dari itu. Pembacaan peta dibandingkan informasi Rifai (60), salah seorang warga desa berpengalaman memancing di jalur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Tampang kakek berambut panjang sepunggung, berjenggot dan kumis tak kalah panjangnya bulu-bulu itu semuanya memutih beruban&#8211; ini, cukup meyakinkan. Kesimpulannya, tim harus melakukan survei darat untuk melihat kondisi sebenarnya. Semula tim survei enam orang. Yakni, dua penduduk setempat Rifai dan Achmad Basri (48, Sekretaris Desa) &#8211;rumahnya dijadikan tempat menginap tim di Tanjungraya, Koesmiran dan Endang Mustaqin alias Enkin (dari Pengda Federasi Arung Jeram Sumsel selaku konsultan ahli ekspedisi), Bim-bim <em>skipper </em> perahu tim pelopor dan saya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Kemudian, tim survei membengkak menjadi 12 orang, seluruh tim pelopor turun. Survei memotong jalan dari perkebunan penduduk dari atas bukit, turun ke jeram Suruman &#8211;titik krusial awal&#8211; di hilir muara Sungai Lintang. Terus menyusuri hingga Lubuk Genting. Pengamatan dari tepi sungai dilanjutkan, hingga Desa Kembahangbaru seluruh jalur tertutup&#8211; sebagian besar tebing terjal yang dilewati dengan teknik <em>free climbing</em>, tanpa pengaman. Kesimpulannya, jalur dapat diarungi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">FOTO kamera digital dan dibuka di layar televisi, cukup menjadi bahan informasi seluruh anggota tim. Hasil pemotretan menjadi rekomendasi jalur &#8220;aman&#8221; dilalui, termasuk fotografer <em>Sriwijaya Post </em>Syahrul Hidayat dan wartawan <em>Kompas</em> Ilham Khoiri diizinkan untuk menikmati jeram ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Ratusan pendudukan, tetua desa dan Kades Ny RA Kartini Fadilah, belum lepas dari sudut mata. Tiga perahu memutar 90 derajat ke utara dan dayung dihentikan sebagai tanda penghormatan, menghadap ke lokasi pintu batu yang diyakini makam salah satu makam Puyang Empat Lawang. Di sini diyakini masyarakat sebagai penguasa Sungai</span> <span style="color:black;">Musi Lawang-I, Lawang-II di hulu Sungai Lintang, Lawang-III di Muaradanau (Sungai Kikim), dan Lawang-IV di Ulumusi perbatasan Sumsel Bengkulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Di Muara Sungai Lintang, salah satu titik krusial terlewati, permukaan <em>Ayik</em> (air atau sungai) Lintang yang jernih tidak terlalu tinggi, bahkan di lokasi ini hanya membentuk riam-riam dan dua perahu kandas di bebatuandi bawah permukaan air. Perahu tim pelopor, mulus menyusuri arus dengan kecepatan diatas 20 kilometer perjam dan tiba-tiba memberi <em>signal</em> berhenti menepi di <em>eddies</em> (arus tenang). Perahu karet kedua, memilih jeram cukup besar dan sempat membentur dinding batu kapur sehingga membuat perahu memutar hampir 180 derajat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Di depan, sekitar 100 meter, sudah menunggu Jeram Suruman sekitar 75 meter. Salah satu jeram terbesar yang arusnya langsung mengarah ke tebing batu </span><em><span style="color:black;">kars</span></em><em><span style="color:black;"> </span></em><span style="color:black;">(batu kapur) membentuk bukit masuk ke badan sungai. Jeram ini disebut-sebut pernah mencerai-beraikan rakit penduduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Tim sempat bermain-main di jeram ini, perahu tim pelopor melakukan <em>portaging</em>, perahu ditarik ke hulu jeram. Kembali memasuki jeram untuk pemotretan, karena fotografer berada di perahu pelopor dan saat perahu bergerak kamera disimpan di container khusus karena alat fotografi yang dibawa tidak <em>waterproof</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Tiga perahu karet, dua berwarna merah dan satu lagi hijau putih sebagai perahu <em>sweeper</em>, berisi 17 personel benar-benar &#8220;pesta jeram&#8221;. Termasuk ketika melalui Lubuk Genting. Ya&#8230; Lubuk Genting, arus menyempit tetapi hanya berupa flat, airnya sangat tenang yang tetap menyisakan misteri sedangkan arus di bagian hulu begitu besar dan tiba-tiba menghilang di lubuk ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Lepas tengah hari, jalur &#8220;perawan&#8221; sepanjang 12 kilometer yang selama ini tertutup sudah dilalui. Masih ada jeram &#8220;tumbuk pisang&#8221;, arus seolah menyeret dan menumbuk batu onggokan batu besar yang sudah membentuk lubang besar atau <em>under-cut</em> yang sulit</span> <span style="color:black;">dihindari bila menggunakan rakit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Melewati hutan bambu dabuk, kemudian jembatan gantung, menandai berakhirnya jalur tertutup. Desa Kembahang, Kecamatan Talangpadang (Lahat). Tak ada perkampungan penduduk di sini, selain tiga pondok petani. Desanya sudah pindah sekitar dua kilometer ke atas, persis di tepi ruas jalan Tebingtinggi-Tanjungraya. Desa Kembahang (Lama) sudah pindah tanpa bekas, setelah disapu banjir, dan banyak penduduk yang hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Di jeram Kembahang ini pula, insiden terjadi ketika fotografer <em>Sriwijaya Post</em> terlempar. Perahu tim pelopor membentur batu di tengah sungai, jeram panjang sekitar 200 meter dengan air seperti mendidih akibat perbedaan ketinggian sekitar tiga meter. Untung, sekali lagi patut mengucapkan syukur hal terburuk terhindari. Sisa jarak dengan jeram bervariasi sekitar 35 kilometer dan lewat di perkempungan penduduk hingga ke Tebingtinggi menjelang waktu shalat Maghrib. Kedatangan tiga perahu karet sempat menjadi tontonan warga </span><span style="color:black;">kota</span><span style="color:black;"> kecamatan (84 meter dari permukaan laut) di jalur Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) itu. Hari pertama ekspedisi, menempuh jarak sekitar 40 kilometer, terlewati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Perjalanan selanjutnya, tiga hari pertama masih terdapat jeram-jeram pendek sekadar untuk hiburan. Selebihnya, lubuk panjang dengan arus memutar serta jebakan tali pancing. Pemukiman jarang ditemui hingga ke Muarakelingi, lokasi bermalam kelima. Bahkan ruas Muarakelingi-Muaralakitan (wilayah Musirawas), tim harus mendayung selama 10 jam non-stop, kecuali saat makan siang. Hari ke-8, tim kemalaman di jalan dan baru sampai ke titik target Muara Sungai Lematang pukul 21.00. Kemudian, diserbu angin kencang dan hujan ketika akan memasuki wilayah </span><span style="color:black;">Palembang</span><span style="color:black;">. Setelah bermalam di pondok keramba apung di pinggiran kota Palembang, Senin tengah hari tim merapat di Taman Benteng Kuto Besak, persis di hulu Jembatan Ampera dan di sana sudah menunggu para ‘petinggi</span><span>’</span><span style="color:black;"> Wigwam dan makan siang bersama tanpa acara seremonial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Dari : www.faji.org<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=3&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/ekspedisi-lintas-musi-menembus-jalur-perawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/</link>
		<comments>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 06:28:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ngarung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flat]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=1&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ngarung.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ngarung.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ngarung.wordpress.com&amp;blog=5854434&amp;post=1&amp;subd=ngarung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ngarung.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3cb344f6dfd20cdccd15cffadd62b5bd?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ngarung</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
